Ketika orang menertawakan penampilan barunya, aku hanya tersenyum kecil. Bukan menyetujui pendapat orang lain, namun lebih kepada menyetujui kata hatiku, bahwa ia tidak tahu betapa cantiknya ia bagiku dengan penampilan seperti apa pun ia.
Ketika…ketika…ketika…dan ketika…
Yah, awalnya semua berjalan seperti biasa…indah. Selalu indah. Sampai ketika perasaannya mencapai suatu titik, titik dimana aku tidak dapat memahaminya, titik dimana aku tidak dapat menyentuhnya lagi. Aku tidak tahu mengapa, karena ia tidak memberitahukannya kepadaku. Tapi ia hebat. Ia bisa membuatku berkorban untuknya, menunjukkan betapa aku tulus padanya. Menunjukkan padanya betapa dengan ketidakhadirannya, semua duniaku bagai runtuh diterjang ombak gempa. Meluluhlantahkan perahu kecil kami yang telah kami warnai sedemikian rupa. Apa lagi yang tersisa? Apakah masih ada? Yah, masih. Kisah. Kisah dimana kami memulai membangun dan kisah ketika kami mewarnai perahu kami. Hanya itu yang tersisa.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana, membangun kembali duniaku yang telah luluh lantah diterjang ombak gempa tadi. Aku bahkan tidak tahu, apakah aku masih sanggup berdiri. Apakah aku masih sanggup berjalan. Apakah aku masih sanggup berceritera untuknya. Menjadi pahlawan bagi hatinya. Tidak, tidak. Aku tidak mau berharap terlalu jauh. Aku hanya ingin memulai kembali, membangun duniaku yang telah luluh lantah, yang kini hancur lebur bak lautan debu. Bagaimana aku harus memulai? Darimana? Itulah yang sedang kupikirkan. Tapi aku akan memulai kembali. Aku akan membangun kembali, duniaku yang lebih indah dari yang pernah kubangun, walau perlahan, asal bisa kumulai. Asa demi asa. Harapan demi harapan. Impian demi impian, dan realita demi realita, menyatu kedalam dunia baru. Semua akan datang. Semua akan tercipta, kedalam satu dunia baru,….kerajaanku.
Apakah akan ada penggantinya dalam hidupku? Belum, aku belum berpikir kesana. Aku masih mencoba meniti sebuah jalan, jalan kecil dimana hatiku dan hati orang-orang yang mencintaiku bertaut untuk memintaku berjuang. Berjuang untuk diriku. Berjuang untuk impianku. Karena ada yang lebih indah yang sedang menunggu, walau aku tidak tahu apa gerangan itu.
Untuk orang-orang yang telah tulus mencintaiku, dalam rupa apapun itu, terima kasih. Dan maaf, jika balasan cintaku berwujud lain. Termasuk berwujud ucapan, sekedar terima kasih. Tapi itu tulus, karena kalian juga tulus. Aku juga mencintai kalian, hanya caraku beda. Terima kasih. Terima kasih telah menunjukkan kalau dunia ini masih terlalu indah untuk membuatku harus terus remuk redam dengan perasaanku. Aku pasti bangkit. Aku pasti berdiri, walau perlu waktu untuk pulih. Karena aku memang aku telah memilih untuk bangkit kembali. Itu pasti…pasti.
18 Juni 2008 | 04.55
KETIKA AKU MEMILIH
Posted by Alex Maslo at 10:26 AM
Labels: cerita singkat
0 Comments:
Post a Comment